Now Reading
Ribuan Penari Gambyong Memecahkan Rekor Muri di Solo Saat Menyambut Hari Tari Nasional

Ribuan Penari Gambyong Memecahkan Rekor Muri di Solo Saat Menyambut Hari Tari Nasional

Untuk menyambut Hari Tari Nasional, pemerintah kota Solo menggelar acara Solo Menari yang diikuti oleh 5.000 penari. Tak heran jika ribuan penari memadati jalanan Slamet Riyadi. Acara tersebut digelar pada hari minggu (29/4) bertepatan dengan acara car free day. Mulai dari Bundaran Gladak sampai perempatan Ngapeman, Solo, para penari ini melenggang dengan luwesnya. Acara ini sukses memecahkan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri). Informasi mengenai pemecahan rekor Muri itu disampaikan oleh perwakilan Muri, Ariyani Siregar di sela-sela acara  “Solo Menari 2018” dengan perhitungan peserta penari sebanyak 5.035 perempuan penari Gambyong dalam Solo Menari 2018. [caption id="attachment_300" align="alignnone" width="1000"] Sebanyak 5.000 lebih peserta Solo menari memenuhi jalan di sekitar Gladak, Solo | Photo by team kapankitakemana.id[/caption] Pada penghujung acara Solo Menari ini, tidak ketinggalan bapak Wali Kota yang ikut turun bersama ribuan penari dan ikut menari. Antusias warga pun tak luput memeriahkan acara tersebut.

Ajang performance Solo Menari akan menjadi ajang acara tahunan

Pertunjukan Solo Menari ini nantinya akan menjadi event tahunan yang diselenggarakan di Solo sebagai daya tarik wisatawan. Kedepannya, selain menjadi kota budaya, kota Solo ini akan menjadi kota tujuan pariwisata.   Setiap tanggal 29 April nantinya “Solo Menari” akan diadakan setiap tahunnya dengan berbagai macam kejutan lain. Solo Menari ini sudah diadakan 6 kali lho, mulai dari tahun 2012 hingga 2018. Namun untuk pertunjukan tari gambyong ini baru pertama kali digelar.

Tari Gambyong

[caption id="attachment_302" align="alignnone" width="1000"] Peserta Solo menari sedang melakukan swafoto |  Photo by team kapankitakemana.id[/caption] Ribuan penari pada ajang Solo Menari 2018 ini membawakan tari Gambyong yang merupakan salah satu bentuk tarian Jawa Klasik. Tarian ini berasal dari wilayah Surakarta (Solo). Gambyong dibawakan untuk sebuah pertunjukan atau untuk menyambut para tamu. Tari Gambyong ada beraneka ragam variasi, yaitu adalah Gambyong Pangkur, Gambyong Pareanom dan masih banyak lagi. Meskipun banyak variasi namun tarian ini memiliki gerakan dasar yang sama lho, yaitu gerakan tarian tayub. Pada dasarnya, gambyong diciptakakan untuk penari tunggal. Namun sekarang lebih sering dibawakan oleh beberapa penari dengan menambahkan unsur blocking panggung sehingga melibatkan garis dan gerak yang serba besar. Konon, tari gambyong ini merupakan tarian rakyat. Namun pada masa pemerintahan Pakubuwana IX (1861-1893) K.R.M.T Wreksadiningrat seorang penata tari menggarap tari gambyong agar pantas dipertunjukan di kalangan para bangsawan atau priyai. Tarian ini diperhalus dan menjadi populer dan ditampilkan di hadapan para tamu di lingkungan Istana Mangkunegaran. [caption id="attachment_301" align="alignnone" width="1000"] Wajah para peserta penari gambyong | photo by team kapankitakemana.id[/caption] Sebuah perubahan penting terjadi pada tahun 1950 oleh Nyi Bei Mintoraras seorang pelatih tari dari Istana Mangkunegaran pada masa Mangkunegara VIII, membuat versi gambyong yang “dibakukan”. Tari gambyong ini pun terkenal dengan sebutan Gambyong Pareanom. Gambyong Pareanom ini dipertunjukan pertama kali pada upacara pernikahan Gusti Nurul, saudara perempuan MN VIII di tahn 1951. Tarian ini pun disukai oleh masyarakat hingga saat ini.   *** Untuk Traveler yang ingin menyaksikan tari gambyong dengan ribuan penari. Traveler bisa datang ke Solo setiap bulan April di tanggal 29 ya! Pasti akan ada pertunjukan yang luar biasa pada saat Solo Menari setiap tahunnya. ]]>

View Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2015 Blogger Perempuan Network.
All Rights Reserved.

Scroll To Top