Now Reading
Ningrum

Ningrum

Pintu sudah dikunci, tapi baju-baju sekolah Ningrum belum diangkat dari jemuran. Tidak ada yang peduli. Sementara mendung pekat tinggal menunggu satu helaan napas untuk mengalirkan berkubik-kubik air hujan.

Jam dinding belum juga sampai di angka tujuh saat Sunar dan istrinya, Suratun sudah tidak bersuara. Memilih lelap setelah seharian mburuh tandur di sawah milik Kiai Sukardi. Sementara kamar Ningrum yang hampir kedap suara, membuatnya tak menyadari kedatangan angin ribut yang mulai meggerayangi kampung.

Baca Selengkapnya

View Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2015 Blogger Perempuan Network.
All Rights Reserved.

Scroll To Top