Now Reading
“Mengulik“ Sejarah Imlek Yang Penting Untuk Diketahui

“Mengulik“ Sejarah Imlek Yang Penting Untuk Diketahui

Bagi masyarakat Cina Imlek merupakan perayaan paling penting bahkan dari hari-hari lain dalam tradisi Tionghoa. Imlek adalah hari besar bagi masyarakat Tionghoa atau Cina yang sudah lama telah di rayakan sejak dahulu. Hari raya ini adalah hari paling penting diantara hari-hari lainnya dalam tradisi Tionghoa. Pada dasarnya kata Imlek merupakan penanggalan yang menggunakan perhitungan bulan (lunar).  Kata ini berasal dari dialek Hokkian Selatan, sehingga dapat dikatakan tahun baru Imlek berarti tahun baru menurut penanggalan bulan. Hal ini juga dapat dilihat dari setiap ucapan selamat tahun baru seperti guo nian hao (selamat menjalani tahun baru), gon he xin xi (hormat bahagia menyambut tahun baru), gong xi fa cai (hormat bahagai berlimpah rezeki). Penanggalan Imlek pertama kali dimulai pada 2637 SM pada masa pemerintahan Kaisar Oet Tee atau Huang Ti (2698 – 2598 SM).

Di negeri asalnya, perayaaan Imlek dirayakan berbeda-beda antara suku yang satu dengan lainnya.  Oleh karena luasnya dataran Cina, maka kondisi lingkungan, masyarakat, adat istiadat pun juga sedikit berbeda antar daerah.

Perayaan Tahun Baru Imlek dimulai dari hari pertama bulan pertama dalam penanggalan Tionghoa yang kemudian akan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama) setelah Imlek. Malam tahun baru imlek dikenal juga sebagai Chuxi yang berarti “malam pergantian tahun”. Di Cina, adat dan tradisi Imlek sangat beragam. Akan tetapi, dari jutaan orang Tionghoa yang ada di muka bumi ini, hanya sedikit yang mengetahui sejarah dan asal-usul Tahun Baru Imlek. Biasanya mereka hanya merayakannya dari tahun ke tahun bila kalender penanggalan Imlek telah menunjukan tanggal satu, bulan satu. Jenis dan cara merayakannya pun berbeda-beda dari satu suku yang satu dengan yang lain, dikarenakan luasnya daratan Tiongkok (Cina) dengan beraneka ragamnya kondisi alam dan lingkungan, baik secara geografis, demografis, juga etnis.

Satu semangat bagi orang yang merayakan Imlek, yaitu suatu harapan akan terciptanya kedamaian dan kebahagiaan bagi umat manusia.

Tradisi Tahun Baru Imlek ada yang dimulai dengan sembahyang kepada Thian, para dewa dan leluhur, ada pula yang memulai perayaan dengan makan ronde. Atau, kebiasaan lain sebelum saling berkunjung ke sanak saudara dan kerabat sambil tak lupa membagi-bagikan “ang pau” untuk anak-anak, yang tentu saja menerimanya dengan penuh suka cita. Kendati tradisi dan kebiasaan orang Tionghoa boleh berbeda, namun ada satu semangat yang sama dalam merayakan Tahun Baru Imlek, yaitu suatu harapan akan terciptanya kedamaian, kebahagiaan keluarga, teman-teman ataupun penduduk dunia lainnya.

Perayaan Imlek di Indonesia diwarnai dengan pelarangan, penghapusan larangan, hingga resmi menjadi hari libur nasional.

Sejarah imlek di Indonesia, diwarnai dengan pelarangan sepanjang masa pemerintah orde baru sejak 1968 hingga 1999, masyarakat keturunan Tiongha dilarang melakukan perayaan tahun baru Imlek di depan umum. Hal itu berdasarkan atas Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, yang dikeluarkan oleh Presiden Soeharto, yang melarang segala hal yang berbau Tionghoa, termasuk di antaranya tahun baru Imlek. Namun, pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia, mendapatkan kebebasan untuk merayakan tahun baru Imlek, yaitu di mulai pada tahun 2000. Tetapi pada saat itu, perayaan Imlek belum menjadi hari libur nasional. Barulah setelah Presiden Abdurrahman Wahid secara resmi mencabut Inpres Nomor 14/1967. Dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Selanjutnya perayaan Imlek di Indonesia mengalami perubahan pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu Hari Libur Nasional, oleh Presiden Megawati Soekarnoputri mulai tahun 2003 hingga saat ini. Begitulah sejarah imlek di Indonesia, sungguh merupakan suatu perjuangan panjang bagi masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa untuk bisa mendapatkan kegembiraan dan kebebasan merayakan tahun baru mereka seperti saat ini.]]>

View Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2015 Blogger Perempuan Network.
All Rights Reserved.

Scroll To Top