Now Reading
Begini Sejarah Meriahnya Seputar Perayaan Tahun Baru Imlek. Baca Yuk! Agar Kita Tambah Wawasan

Begini Sejarah Meriahnya Seputar Perayaan Tahun Baru Imlek. Baca Yuk! Agar Kita Tambah Wawasan

Perayaan Imlek ( Credit : Athena Lam For Unsplash)[/caption] Tahun Baru Imlek atau disebut juga dengan Festival Musim Semi ini telah ada sejak abad ke-20, serta merupakan hari libur sosial dan ekonomi yang paling penting di Cina. Tahun baru imlek dikenal juga dengan Nong Li (bacanya: nung li), yang artinya “penanggalan petani”. Hal ini bisa dimaklumi karena sebagian besar orang zaman dulu aktivitasnya adalah bertani. Para petani mengandalkan kemampuan mereka membaca alam, pergerakan bintang, bulan, dan benda angkasa yang lain untuk bercocok tanam. Apalagi di Cina yang 4 musim, perhitungan tepat dan presisi harus andal untuk mendapatkan pangan yang cukup. Perayaan Tahun Baru Imlek sebenarnya adalah perayaan menyambut musim semi yang disebut dengan Chun Jie (baca: juen cie), yang artinya “menyambut musim semi”.  Musim semi disambut dengan sukacita karena musim dingin akan segera berlalu dan tibalah saat para petani untuk menanam lagi. Tanaman pangan terutama padi (Cina selatan) dan kebanyakan gandum (Cina utara) serta tanaman pertanian lainnya. Oleh karena mengandalkan alam untuk kehidupan mereka, menyambut datangnya musim semi merupakan keharusan yang dirayakan dengan meriah. Perayaan Tahun Baru Imlek ini mulai dikenal di zaman Dinasti Xia (sering ditulis Hsia juga, tahun 2205 – 1766 SM). Setelah Dinasti Xia runtuh, penanggalan Imlek selalu berubah sesuai dengan kemauan dinasti yang berkuasa. Biasanya ditetapkan sesuai dengan waktu berdirinya dinasti tersebut. Baru pada masa Dinasti Han (206 SM – 220 M), penanggalan semua dari Dinasti Xia diresmikan sampai sekarang dan tahun kelahiran Konghucu ditetapkan sebagai tahun pertama. Perayaan tradisional untuk Tahun Baru Imlek adalah festival paling penting di kalender. Perhatian seluruh rumah tangga terfokus pada perayaan. Selama waktu ini, aktivitas bisnis nyaris berhenti. Rumah dan keluarga menjadi fokus utama. Dalam persiapan untuk liburan, rumah benar-benar dibersihkan untuk membebaskan penghuninya dari “huiqi”, atau napas yang tidak menyenangkan, yang mungkin telah terkumpul selama tahun-tahun sebelumnya. Pembersihan juga dimaksudkan untuk menenangkan para dewa yang akan turun dari surga untuk melakukan inspeksi. Ritual sesaji dengan makanan dan kertas disuguhkan untuk dewa dan leluhur. Orang-orang memasang gulungan yang dicetak dengan pesan keberuntungan di gerbang rumah dan menyalakan petasan untuk menakut-nakuti roh-roh jahat. Sesepuh memberikan uang kepada anak-anak.  Bahkan, banyak ritus yang dilakukan selama periode ini, dimaksudkan untuk membawa keberuntungan kepada rumah tangga dan umur yang panjang kepada keluarga, terutama untuk orang tua.Hal yang paling penting  berpesta pada malam Tahun Baru Imlek. Pada Malam Tahun Baru Imlek, keluarga besar akan berkumpul mengelilingi meja makan yang di sana disajikan ikan, menandakan sebuah simbol kelimpahan.  Sebenarnya sajian itu  tidak dimaksudkan untuk dimakan.  Kemudian, dalam lima hari pertama Tahun Baru Imlek, orang-orang akan makan mie panjang untuk melambangkan umur yang panjang. Pada tanggal 15 dan akhir Tahun Baru, pangsit berbentuk bulat seperti bulan purnama dibagikan sebagai tanda bagian keluarga dan kesempurnaan. Di Indonesia sendiri, pada kurun waktu tahun 1968-1999, perayaan Tahun Baru Imlek sempat dilarang dirayakan di depan umum. Larangan tersebut di bawah  Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967.  Saat itu, rezim Orde Baru pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Cina atau Tionghoa.  Salah satunya adalah perayaan Imlek. Masyarakat keturunan Cina di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000.  Saat itu pimpinan berada di bawah Presiden Abdurrahman Wahid. Presiden Abdurrahman Wahid telah mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian Presiden Abdurrahman Wahid menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2001 tertanggal 9 April 2001 yang meresmikan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur fakultatif (hanya berlaku bagi mereka yang merayakannya). Baru pada tahun 2002, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarno Putri.  ]]>

View Comments (0)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

© 2015 Blogger Perempuan Network.
All Rights Reserved.

Scroll To Top